Saturday, 20 June 2015

Surat Kecil untuk Sang Pemilik Hati

Langit serang terlihat begitu indah menampakan senja yang berwarna orange dengan sinar mentari yang tajam, aku terpana melihatnya. Terbayang sesosok pria yang berada diujung kota sana. Kita telah menjalin hubungan mungkin sudah terhitung lama, tentunya kita melewati semuanya bersama jarak. Jarak selalu hebat mengambil alih seluruh rasa, ia mampu menimbulkan rindu padahal ia tau, rindu ini takkan terselesaikan, ia tau bagaimana menggenggam seseorang dalam pertahanannya, dan juga ia mampu membuat seorang wanita meneteskan hujan rintik dipelupuk matanya saat jarak menghadirkan rasa rindu yang begitu menggebu  .

Terkadang terpikirkan tentang bagaimana sosok mu disana, sosok seorang pria yang selama dan sejauh ini selalu hadir dalam hidupku, memberi warna merah jambu didalam setiap sudut otakku, yang mampu mengubah air mata menjadi senyuman, yang sanggup meyakinkanku untuk tetap bertahan. Mungkin kini para jago komentar sedang tertawa membaca huruf demi huruf ini , mereka akan berceloteh tentang apa yang tidak mereka ketahui. Bahkan hal yang tidak mereka rasakan. Tentu, mereka hanya berbicara tapi mereka tidak merasakan arti sabar dalam penantian dan berjuang bersama dengan orang yang kita sayangi.

Apakah salah jika dua insan manusia, saling berjuang bersama ?  Apakah salah jika aku dan dia merapalkan ribuan kalimat dalam sujud panjang kita kepada-Nya berharap pertemuan nyata itu segera menarik dirimu untuk mendekat kepadaku  ? Kita memang jauh sayang, namun Tuhan tidaklah buta , Ia akan tetap melihat apa yang kita rapalkan dalam setiap sujud panjang  kita kepada-Nya. Bersabarlah sayang, tetap teguhlah pada Do'a-Mu. Tetap teguhlah pada setiamu. Aku percaya, kelak Tuhan akan mendekatkanmu padaku, Tuhan akan mengubah air mata penantian ini menjadi senyuman pertemuan. Yang aku dan kamu butuhkan saat ini hanyalah Bersabar dan tetap mendekatkan diri kepada-Nya, kepada Ia sang pemilik hati seluruh umat-Nya.

Dan Teruntuk-Mu Zat yang Maha Agung, Tuhanku yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. ya Latif , dengan segala rasa hormatku , aku mohon tolong dengarkan aku Tuhan. Tolong dengarkan celoteh wanita kecil ini, mungkin aku sering terlihat cengeng dihadapan-Mu, mungkin aku terlalu bawel berbicara tentang apa yang aku rasakan saat ini kepada-Mu , mungkin aku terlalu banyak meminta kepada-Mu. Tapi aku percaya Engkau takkan pernah bosan mendengarkan celotehanku. Bahkan Engkau akan tetap memelukku walaupun aku sering menangis. Baiklah mungkin aku terlalu  banyak berbicara, pada intinya aku hanya ingin memohon bahkan mungkin meminta kepadaMu : "tolong beri kekasihku hari libur untuk aktivitasnya , Tuhan. tolong pertemukan aku dengannya, dan jagalah priaku saat aku tak bisa berada disampingnya seperti-Mu. Aku percaya penjagaanMu tak bisa ditandingi oleh apapun, kasihilah dia seperti Engkau selalu mengasihiku saat aku tersungkur pasrah dalam sajadahMu, aku menyayanginya, Tuhan. " baiklah Tuhan hanya itu permintaanku, Mungkin aku banyak meminta, namun aku sangat berharap Engkau mau membantuku. Terimakasih atas waktu yang telah Engkau berikan untuk mendengarkan celotehan wanita kecil ini. Tetaplah memelukku, dan menuntunku untuk tetap berada dalam ridho-Mu.

Dari Annisamu...

Monday, 9 February 2015

APAKAH TUHAN MERASAKAN ?



Tasbih tergenggam erat dalam jemariku
Seperti biasa AL-QUR’AN ditanganku
Aku dan kamu merapal do’a yang sama
Dengan bulir air mata

Aku bersujud
Dan kamu mengadahkan kedua tangan
Air mata mengalir melewati bibir
Bulir air mata itu disebabkan oleh cinta
Semoga tangis ini
Bukan karena menangisi sebuah jarak
Semoga ini hanya tangis kerinduan

Lalu kita saling bersujud
Berharap bisa bercakap dengan Tuhan lebih jelas
Ada rasa sesak yang menjalar
Rasa takut yang mengakar
Apakah sebenarnya ini adalah salahku dan salahmu
Apakah salah kita?
Hingga untuk jatuh cinta pun
Terasa begitu menyakitkan dan menyedihkan ?

Tuhan..
Ceritakan pada kami tentang jarak
Ceritakan pada kami bagaimana tangan rindu bisa menyentuh dalam derasnya air mata
Mungkin..
Setelah itu Kau tau Tuhan bagaimana rasanya jadi kami
Berkatalah Tuhan,
Bantu kami agar tetap tejaga walau dalam jarak ratusan kilometer.

MERINDUKANMU DALAM SEPI
Hujan menari-nari perlahan
Menggelitik gemas pepohonan
Dan angin mengayuh riuh suasana
Tubuhku menggigil
Langit semakin cemas
Ia terus menerus menangis
Sementara dirimu jauh dari sisiku
 Aku tak paham dengan getir petir yang menyambar
Membawa sosokmu berdiri dihadapanku
Bayangmu seperti nyata namun tanganku tak dapat menggapai.
Kasih… mungkinkah aku dan kamu yang terikat dalam KITA, adalah sebuah kenyataan ?
Apakah benar aku kekasihmu ?
Mungkinkah aku pelampiasan dari cinta lama mu.
Aku percaya kamu, kamu tidak setega itu
Tapi apakah kesetian itu ada pada kita saat jarak sejauh ini ?
Apakah tidak ada wanita lain dihatimu selain ibu, adikmu dan….. aku ?
Aku takut pada cinta
Karena aku pernah dikhianati olehnya
Aku takut pada percaya
Karena aku pernah dibohongi
Tapi pada rindu, tubuh ini terkapar pasrah
Membiarkan seluruh sudut diotakku terisi olehmu
Pria berdarah jawa
Yang sampai detik ini membuatku bingung
Membuatku terlihat bodoh
Namun inilah KITA.
inilah aku dan kamu
dengan segala ketidak logisan
memikirkan seseorang, merasa kehilangan
yang sering aku sebut rindu.
Suara katak yang bersautan menambah keparahan rindu
Kamu tidak disini
Akupun tidak tau kamu disana bagaimana dan sedang apa
Sayang… aku merindukanmu
Entah bagaimana denganmu ~