Friday, 29 December 2017

Satu BAB yang tidak pernah terbaca olehmu

Aku lupa rasanya tidur diawal waktu karna setiap malam mataku terjaga oleh sebuah ingatan tentangmu yang tiba tiba saja memilih pergi. Kamu seolah tak mengerti ada hati yang benar benar mencintai dan tak ingin kehilangan. Kenapa tidak dari awal saja kamu ungkapkan alasan yang jelas kamu memilih pergi. Agar aku tidak bertanya tanya, agar lukaku tak begitu meradang didalam dada.

Aku lupa bagaimana rasanya tidur pulas tanpa terbangun oleh mimpi buruk karna setiap malam mataku tetap terlatih oleh sebuah tangisan dan air mata yang memaksa untuk luruh, sejak kepergianmu yang tanpa alasan. Rasa khawatirku begitu bergejolak,  rasa sayangku begitu terkoyak, dan rasa traumaku lebih banyak dari rasa phobiaku.

Tuan, jika kamu tidak memiliki rasa sayang sebesar yang kumiliki, kenapa tidak kamu ungkapkan saja sejak awal?  Mengapa kamu memulai sebuah alur cerita, jika pada akhirnya kamu tau bahwa kamu akan mengakhiri dengan cara menyakitkan seperti ini.
Kenapa kamu bersikap seperti cintamu lebih dalam dibanding yang kupunya, aku merasa baik baik saja disampingmu, kamu adalah hal terbaik yang selalu kusyukuri. Tapi kamu malah melemparkan sebuah granat dan menghancurkanku sekaligus. Karnamu, aku takut mengenal Cinta. Cinta terasa begitu menakutkan, dia seperti sebuah jurang, ataukah seperti boneka barbie yang selalu membuatku phobia bahkan tak pernah berani kulihat atau kusentuh karna begitu menyeramkan. Aku benar-benar trauma oleh ledakan granatmu itu, Tuan.

Lalu setelah trauma itu lebih manguasai hatiku, kamu hadir kembali?  Tuan, hatiku bukanlah sebuah taman yang bisa kamu datangi saat kamu jenuh. Hatiku adalah sebuah lautan berdarah yang takkan pernah bisa mengering. Lalu kenapa sekarang kamu memaksa untuk kembali ? Dan untuk apa pada masa itu kamu memaksa untuk pergi, dan memaksaku untuk terjatuh. Percayalah tuan, akupun bisa menghapus kamu semudah hujan yang menghapus setiap jejakmu. Tidak usah kamu meragukan itu, akupun tak yakin bahwa aku bisa? Tapi aku lebih yakin pada keajaiban yang dimiliki oleh Tuhan-ku, yang mungkin akan membuatmu seketika lenyap dari ingatanku. Menghadirkan sosoknya yang mampu menyembuhkan lukaku, dan melengkapi hatiku, aku percaya pertolongan Tuhan amatlah dekat dengan Hamba-Nya.

Monday, 18 December 2017

Haruskah Cinta sesakit ini?

Kali ini,  aku benar benar takut untuk merasakan Cinta.

Sejak kamu pergi,  hidupku berubah. Semua kelabu. Hatiku berantakan, pikiranku tak karuan memikirkan alasan kenapa kita harus berpisah lagi? Tak bisakah kamu menggenggam erat tanganku tanpa membuatku merasakan perpisahan lagi ? Ini kali kedua aku merasakan kehilangan dan semua itu karnamu,  Tuan.
Jika memang kamu tidak berniat untuk tinggal harusnya kamu tak perlu datang lagi,  menemuiku kala itu.

Kamu berhasil membuatku tak bisa menghentikan tangisku, kamu adalah seribu alasan mengapa aku mengalami insomnia hebat sejak kepergianmu, aku bukan lagi wanita yang kamu kenali dulu,  tuan. Aku telah berubah,
air mata dan rasa sakit membuatku harus merubah diriku.
Jika menyakitiku membuatmu bahagia, jika mempermainkan perasaanku membuat hidupmu tenang. Lakukanlah tuan. Aku percaya bahwa Tuhan akan selalu menuntunku kepada seseorang yang takkan memberikan perkenalanku dengan luka perpisahan. Seseorang yang akan menyembuhkan insomnia panjangku karna mimpi buruk itu, seseorang yang akan menyediakan genggaman tangannya untuk berjuang bersama ku untuk melewati badai tanpa harus melepaskanku seperti kamu.

Sekali lagi,  aku akan melepaskanmu pergi, pergilah tuan. Aku tidak akan melarangmu,  menahanmu seperti dahulu, pergilah bersama dia pilihanmu. Karna dia adalah wanita yang kamu pilih untuk meninggalkanku. Jangan pernah menoleh kearahku, jelas ini sakit tapi tak apa aku akan baik baik saja, dan akan selalu baik baik saja mengetahui semuanya. Semoga kamu percaya itu.
Kini,  aku telah mencapai titik trauma dan rasa lelah tertinggi dihidupku. Aku tak lagi ingin mengenal Cinta yang salah,  Cinta yang memiliki tanggal kadaluarsa lalu berpisah. Aku bukan lagi wanita dimasa remaja yang hanya mengenal Cinta untuk sebuah permainan.

Selamat tinggal,  Kamu.

Sunday, 3 December 2017

Aku telah selesai, dan aku telah bersumpah.

Hallo,  Tuan. Hari ini tepatnya 1 November 2017 Aku berhasil menyelesaikan pendidikan diplomaku, aku sangat berharap kamu ada disini menyaksikan hasil dari perjuanganku selama 3tahun ini. Tuan,  kamu jelas tau ini tidaklah mudah terlebih hal ini bukan yang selama ini aku cita citakan, aku pernah bermimpi menjadi seorang aparat negara untuk menjaga keamanan NKRI tapi nyatanya Tuhan tidak mengijinkan karna bukan itu yang ku butuhkan. Kini aku terlanjur menyelami pendidikan farmasiku terlalu jauh hingga akhirnya aku jatuh hati pada profesi ini, benar kini aku menjadi seorang tenaga kesehatan sungguhan. Aku telah bersumpah atas nama Tuhan untuk menjaga nama baik profesiku dan mengutamakan keselamatan pasien tanpa membedakannya dari jabatan, rupa, budaya, bahkan agamanya.

walaupun badai sempat menghancurkanku hingga rasanya aku ingin menyerah, dan tak ingin lagi meneruskan segalanya lalu pergi sejauhnya. Tentu,  badai itu hampir melumpuhkan kehidupanku, Tapi Allah selalu memberi kekuatan untukku tetap bertahan dan meyakinkan hatiku untuk tetap berjuang.

Tuan, Siapakah kamu?  Dimanakah sekarang kamu berada?
Bisakah kamu datang dan temaniku berjuang?
Aku rindu, Tuan.
Aku ingin bertemu, mengenalmu, aku ingin bercerita banyak hal saatku lalui hari tanpamu. Aku ingin menemanimu berjuang, aku tak lagi ingin sendiri menghadapi semuanya, aku takut terluka.
Dan akupun terlalu lelah untuk mengenal Cinta yang selalu terasa menyakitkan, pada saat kamu sudah melakukan yang terbaik semampumu, tapi tetap saja aku yang selalu dikecewakan. Tak apa, aku sudah terlalu kebal untuk hal menyakitkan hati seperti ini.

Hal itulah yang akhirnya membuatku lelah,  dan ingin segera bertemu denganmu, Tuan. Aku tak ingin lagi mengenal seseorang yang salah, aku tak lagi ingin kecewa, aku ingin setia bersamamu, menantimu seperti takdir yang menanti untuk mempersatukan kita nanti.

Aku berharap semoga langkahmu tetap ditangguhkan, tatapmu tak berbelok dan hatimu diyakinkan padaku. Semoga Tuhan mengizinkan kita untuk segera bertemu dalam waktu terdekat atas kehendaknya.
Tuan,  Aku rindu.