Saturday, 13 October 2018

Aku mencintaimu, tapi Tuhan ingin kita hanya saling menggenggam tanpa bersatu.

Sudah tau tidak bisa bersatu mengapa harus memaksakan ?
Sudah tau berbeda mengapa berharap bisa terus bersama ?
Jika tidak ada yang bisa mengalah, lalu untuk apakah waktu yang dijalani selama ini ?

Senja yang begitu indahpun seketika berkelabu, ketika seseorang menatap hijab yang menutupi auratku dan kalung salung salib yang melingkar jelas dilehermu. Kita merasa seperti tidak ada batasan apapun, semuanya seperti sama. Kita melangkahkan kaki yang sama, berlari bersama. Mendengarkan alunan lagu iringan penurunan bendera yang terdengar begitu indah sore itu. Menyaksikan matahari meredup secara perlahan. Kita berada dalam kebahagiaan, tertawa bersama seolah tidak ada tembok yang membatasi.
Kamu adalah sosok itu, sosok yang aku tunggu dalam patah hati panjangku,
Pria dari bagian timur indonesia yang berwajah oriental,
Dengan bentuk mimik begitu menyeramkan, tapi tidak dengan sikapmu yang humoris.
Pria puitis yang selalu membuatku terpesona dengan tulisannya, dan begitulah cara dia memperlakukan seorang wanita.
Pria yang membuatku tersadar bahwa akan ada cinta yang lebih baik dari masa lalu itu.
Pria yang selalu membelaku saat ada orang yang mengusikku.
Pria yang berkata "percayalah kamu akan selalu cantik dengan hijabmu" saat seorang temanmu berkata "cewenya cantik sayang berhijab". Oh, Allah saat itu aku ingin menangis sejadinya, mengapa kami berbeda ? Mengapa kami tidak bisa bersatu ?
Kamu adalah pria yang selalu mengkhawatirkanku saat setelah aku pulang dari lapangan itu.
Tempat itu, kamu menatapku, menatap hijabku yang bergerak saat tertiup semilir angin. Lalu kamu menatap kalung salib dilehermu dan melepaskannya.
"Kenapa dilepas ?" Ucapku spontan. "Gapapa, yang penting kamu ga lepas dari hidupku. Aku mau belajar islam denganmu, aku mencintai wanita berhijab ini, jadi tetaplah berhijab dan ajari aku" ucapmu saat itu. Aku terperangah mendengarnya, menatap matamu dan perlahan bulir air mata itu turun dipelupuk mataku. akal sehatku sulit memahaminya, bagaimana bisa keimanan seseorang menyerah karna cinta ? Benarkah hatinya pun turut berkonspirasi seperti itu ?
Rasa takutku mulai menjalar hebat saat perasaan turut andil dalam percakapan kita. Aku takut untuk hal yang sudah aku ketahui, kita mungkin bisa saling menggenggam jemari tapi tidak untuk menua bersama. Kita bisa mengalahkan ego tapi tidak bisa merubah keimanan hanya karna cinta.

Tidak ada jalan lain, semua buntu. Tidak berarah, aku dan kamu memang tidak seharusnya jatuh cinta. Benar, masih banyak cinta yang seiman yang bisa bersatu. Karna Agama adalah identitas diri atas rasa Cinta kita kepada Tuhan. Bagiku, tidak bisa tergantikan. Jadi mari kita saling melepaskan.