Saturday, 11 November 2017

Selamat Tinggal Kali Kedua

Ini sulit, aku bahkan tak mengerti ketika jantungku berdegup tak beraturan sejak kemarin, aku bahkan tak mengerti mengapa harus kamu orang yang masih tetap aku cintai. Malam itu bagaikan mimpi buruk bagiku sebuah bom yang tiba tiba meledak dipelupuk mata meluluhkan segalanya. Rasanya aku ingin menampar diriku, mengapa aku sebodoh itu harus menerima dia datang?  Jikalau aku tau hanya luka yang melebihi perihnya dari kejadian masa lalu itu yang akan kamu tumpahkan.
Tuan, harusnya kamu tidak datang lagi? Harusnya tidak kamu tumbuhkan perasaan itu lagi?  Jika kamu tau bahwa kamu tidak akan berjuang bersama.

Seorang wanita telah terbiasa hidup sendiri, belajar merangkak setelah lama terluka, setelah dia bisa berjalan. Lalu kamu datang kembali hanya untuk meruntuhkan segalanya?
Entah kenapa, malam itu jika aku bisa,aku ingin menggenggam erat tanganmu,  memelukmu untuk terakhir kalinya. Pelupuk mataku terasa berat saat aku melihat wajahmu, "mungkinkah kita bisa bertemu lagi" ucapku. saat itu hatiku berpikir mungkinkah itu akan menjadi pertemuan terakhirku denganmu? Rasanya sulit, untuk kehilanganmu lagi. Namun ini pilihanmu, dan aku harus belajar melepasmu lagi.

Aku akan berlari sejauh yang kumampu untuk melupakanmu. Dan tuan, Terimakasih telah menjadi malaikat berjuangku, aku sempat bahagia. Sebelum aku merasakan kekecewaan itu lagi. Awalnya aku tidak mempercayai itu tapi "kecewa dan hancur yang kedua kalinya akan melebihi perasaan itu saat pertama kali" dan aku merasakannya.
Tuan, selamat tinggal untuk kali kedua. Selamat tinggal untuk kisah yang kupikir bisa kita perjuangkan bersama namun kamu lepaskan. Selamat tinggal untuk sebuah kenyamanan, tatapan, dan genggaman tangan saat salam itu. Dan selamat tinggal untuk segalanya.