Beberapa bulan yang lalu, aku dengannya pernah dalam keadaan baik-baik saja, ia pernah berjanji takkan menyakiti dan saya percaya itu, kita pernah saling berjanji takkan pernah melepaskan genggaman tangan ini apapun yang terjadi. Sampai pada akhirnya keindahan itu harus sirna, senyuman itupun berubah menjadi air mata, aku tak lagi bahagia disampingnya. Aku memutuskan menjauh dan berusaha mengikhlaskan semuanya, disaat ada wanita lain diantara aku dan dia. genggaman tangan itu tak lagi dapat dipertahankan. Aku yang saat itu begitu sangat mempercayai ucapannya namun Betapa Takdir Allah menyadarkan aku bahwa dia bukanlah pria terbaik yang Allah pilihkan untukku. Sampai akhirnya aku dan dia harus terpisah dengan sendirinya, karena bibirku tak dapat lagi mengucapkan sepatah katapun padanya. Aku yang saat itu merasa sangat hancur dan begitu sangat terluka mencoba mencari oksigen untuk melepaskan rasa sesak dihati ini.
Hari-hari yang selalu aku lalui begitu terlihat membosankan ; menyendiri, meratapi, menangis. Dan sepertinya langitpun ikut serta dalam tangisku, karena malam hari itu hujan turun dengan derasnya disambut oleh sahutan suara gemuruh petir, entah kenapa aku tak begitu menyukai suasana kamarku malam itu, suhu kamarpun berubah menjadi sangat dingin walaupun tanpa pendingin ruangan, aku menatap langit-langit kamarku yang begitu terlihat menyeramkan karena kamu selalu terbayangkan dan tinggal disana ; diotakku. Saat itu sangat sulit sekali untukku mencari kesibukan agar dapat segera menghilangkan rasa sakit yang menyesakan ini. Sungguh maha Besar Allah menghadirkan kemudahan diatas kesulitan, malam itu aku merasa bahwa Allah tengah memelukku, menghangatkan kembali hati yang membeku, dan memintaku agar kembali lagi pada jalannya. Sungguh hidayah itu datang diantara air mata dalam sujudku. Aku mencoba kembali bangkit dan menata hidupku, memperbaiki masa depanku dengan belajar ilmu agama melalui buku-buku motivasi yang tentu berkaitan dengan agama.
Pada suatu hari, tepatnya hari minggu dimana saat itu aku libur kuliah dan hanya menjalankan aktivitas dirumah seperti membaca buku yang berkaitan dengan hijrah dan perbaikan diri, dan saat itu aku mulai memikirkan tentang masa depanku, dan jodoh. Namun tiba-tiba saja suara bel dirumah berbunyi, aku segera bergegas membukakan pintu, sungguh saat itu aku begitu sangat terkejut ketika melihat sosok wanita yang anggun dengan pakaian syar’inya itu tersenyum, dia sahabatku ; bella. Bella sahabat dari masa SMPku dan sampai saat ini persahabatan ini selalu terjalin dengan ramah. namun istimewanya jodoh ia lebih dekat, dan sekarang dia tengah mengalami indahnya pernikahan. Aku langsung memeluknya kerena sudah beberapa pekan tidak bertemu dan saling menyapa. Kita membahas segalanya dari pernikahannya, kuliahku, dan seperti biasa pembicaraan dengan sahabat tidak pernah beralur, bukan ? sampai pada akhirnya dia memintaku untuk menceritakan tentang kesedihan itu. Setiap kenangan pasti akan menyisakan air mata. bella langsung memelukku dan memberikan support moril untuk hati yang rapuh ini. Setelah perbincangan itu bella mengajakku kesuatu tempat, aku bertanya hendak kemana tujuannya bellapun hanya tersenyum, yang pasti aku harus ikut, ucapnya. Diantara debu dan kemacetan jalanan serang, dia memacu kendaraannya dengan kencang seperti ada acara yang tak ingin ia lewati ditempat itu. Akhirnya aku dan bella sampai ditempat itu, aku tak melihat ada acara disana, hanya ada beberapa wanita berhijab syar’i berkumpul dan ada satu wanita pembicara didepannya. Bella mengajakku untuk lebih mendekat ke perkumpulan itu, kita pun bersalaman lalu membaur bersama yang lain, mendengarkan tausiyah dari pembicara yang saat itu sedang membahas tentang “ Istiqomah dalam memperbaiki diri”, banyak pelajaran yang aku dapat dari tausiyah hari itu tentang memperbaiki dri, ditambah lagi aku berkesempatan untuk bertukar cerita dengan ustadzah pembicara dalam tausiyah itu secara empat mata, ustazahpun memberikan nasihat dan motivasi yang membuat pikiranku kembali terbuka, yang membuat hatiku semakin mantap untuk memperbaiki diri, untuk menanti jodoh ; bukan lagi pacar. Dalam perjalanan pulang menuju rumahku, ucapan ustazah itupun seperti membekas dipikiranku, saat itu hatiku mulai berpikir bahwa jodoh memang harus dijemput dengan cara memperbaiki diri.
Hari itupun berlalu akupun membuat list tentang apa saja yang harus aku lakukan setiap harinya, karena dalam proses memperbaiki diri tidak hanya harus membaca buku mengenai islam namun untuk menjemput jodoh impian, bukankah kita juga harus belajar dari berbagai aspek ? belajar masak misalnya. Iya, hari itu aku mulai diajari masak oleh bella sahabatku, saat itupun pikiran ini mulai tersentuh bahwa selama ini aku berharap bertemu jodoh harapan namun diri ini masih jauh dari kata siap. Kembali lagi pada pengalaman pertama aku memasak, aku begitu merasa canggung menyentuh pisau dan wajan yang berada didalam rak itu, bellapun memperkenalkan bahan-bahan masakan serta bumbu untuk masakan yang akan aku masak. Aku memulainya dari memotong sayuran karena kata sahabatku tampilan makanan itu lebih utama setelah itu baru rasa. Setelah memotong sayuran aku melanjutkan dengan memasak sayuran yang saat itu berhasil namun ketika bella mencicipi masakanku ia langsung mengernyitkan dahi, akupun penasaran bagaimana rasanya masakan aku itu, ketika kuah sayur itu menyentuh indera pengecapku, akupun tak kuat menahan rasa asin itu aku dan bellapun tertawa bersama. Hari itu sungguh seperti sebuah kado terindah bagiku, hal yang belum pernah aku rasakan, hal yang aku spelekan ternyata lebih berat dari pada tugas kuliah dijurusan farmasi yang mungkin masih bisa aku gunakan logikaku, tapi tidak dengan ilmu didapur yang harus menggunakan hati dan keikhlasan agar apa yang kita masak dapat diterima oleh orang lain. Haripun semakin senja tak terasa bella harus pulang karena suaminya pulang dari dinasnya, tapi bella berjanji akan datang lagi pada 3 hari mendatang untuk melihat kemajuan memasakku, aku hanya tertawa mendengar ucapan bella itu. Setelah kepulangan bella hari itu, hari hari berikutnya aku selalu mencoba memasak masakan yang berbeda dan aku sajikan untuk makan malam ayah dan ibu, selama 3 hari itu ayah dan ibu memberikan respon yang berbeda, yang pertama kalinya ibu dan ayah sebelum menyantap masakan itu saling menatap seolah ada keraguan dan setelah menyatap makanan ayah memintaku untuk membuatkan teh manis, akupun tertawa melihat reaksi dari kedua orang tuaku. Pada hari kedua aku memasak respon dari ayah dan ibuku pun berbeda, responnya pada hari kedua ini sudah mulai membaik karena ayah hanya membutuh satu gelas air putih jika dibandingkan dengan hari kemarin, lalu pada hari ketiga aku harus pergi kepasar untk membeli bahan makanan yang akan aku masak nantinya karena persediaan bahan makanan dirumah sudah habis, aku baru pertama kali kepasar hanya ditemani mbok yem (asisten rumah tangga), aku merasa bingung karena dipasar banyak sekali menjual bahan-bahan yang akan aku beli dengan harga yang berbeda. Namun, lagi-lagi aku mendapatkan pelajaran untuk kelak menjadi seorang istri bahwa harus bisa me-manage uang belanja, tidak menghamburkan. Setelah selesai berbelanja aku dan mbok yem pulang kerumah, dan sesampainya dirumah ternyata sahabatku (bella) datang lebih awal untuk menepati janjinya, akupun langsung bersiap untuk memasak, bella dan mbok yem hanya memantauku dari meja makan yang tidak jauh dari dapur, aku tak lagi memperdulikan mereka yang sedang asyik berbincang yang pasti saat itu aku hanya berpikir kalau aku harus bisa membuktikan bahwa aku bisa menjadi wanita seperti bella yang lebih dulu sempurna karena kehadiran kekasih halalnya. Setelah masakanku siap untuk disajikan, aku memanggil ayah dan ibu untuk makan bersama denganku, bella dan mbok yem. Kita makan bersama, yang lebih membahagiakan lagi respon dari ayah dan ibu diluar dugaan, mereka memuji masakanku yang sudah memiliki kemajuan, bella sahabatku serta mbok yem juga berkata hal yang sama. Oh yaAllah, hati ini begitu terharu menyukai apa yang sudah kita persembahkan, dan usahaku tidak sia-sia. Se-selesainya makan, aku dan bella beranjak untuk ke kamarku, kitapun kembali berbincang. Namun kali itu bella berbeda dari sebelumnya disaat aku didapur, dia yang sering menggodaku. Tapi saat ini bella yang aku lihat wanita yang anggun yang tengah menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang. Bella menceritakan pengalamannya selama menikah, dan dia berkata bahwa menikah itu lebih indah, bertemu dengan jodoh itu lebih romantis dibandingkan dengan pacar,aku yang mendengarkan cerita bella itu tersentuh tanpa terasa air mata itu menetes tanpa perintah, pikiranku kembali gelisah dan hati ini kembali bertanya-tanya tentang dimana Tulang rusukku itu berada. Bahkan aku sendiri tak mengerti, bagaimana bisa perasaan ini terus tumbuh sementara aku belum bertemu dengannya, bahkan mungkin aku juga belum mengenalnya, iya dia jodoh yang masih menjadi rahasia terbesarku,, jodoh yang sangat aku nantikan kehadirannya untuk melengkapi hidupku, jodoh yang masih tersimpan didalam lauhul mahfudz.
Waktu berjalan dengan begitu sangat cepat, tanpa terasa hari minggupun sudah hadir kembali, iya dihari minggu ini ada jadwal pengajian (tausiyah) ditempat pertama kali bella mengajakku untuk menghadiri sebuah tausiyah. Aku yang masih dilema, namun entah mengapa hati ini begitu mantap, ingin sekali hadir ketempat itu lagi, akupun bangkit dari lamunanku langsung bergegas mengganti pakaianku dan setelah itu langsung menuju tempat itu. Jalanan serang siang itu tidak begitu macet jadi aku bisa sampai walaupun sedikit terlambat, saat itu beberapa jama’ah telah hadir disana dan ustazahpun telah mengucapkan salam pembuka, akupun langsung bergabung berbaur duduk bersama mereka, bella melihatku dengan tatapan terkejut dan bahagia menatapku dengan pakaian yang berbeda, yang mungkin lebih menutup aurat dibanding sebelumnya, selain kegiatan tausiyah kita juga bermain, bernyanyi bersama para jama’ah lainnya, aku merasa menjadi wanita yang beruntung, karena disaat aku terjantuh Allah memelukku, menggenggam erat pundakku, dengan mengirimkan seseorang yang menyadarkanku untuk ber-hijrah. Sejak saat itu aku mulai menjadi wanita yang menunggu seorang pria bernama jodoh untuk meng-khitbah lalu men-ta’arufiku. Aku mulai menata hidupku, mencari sebanyak mungkin pembelajaran tentang pernikahan impian, yang lebih penting, aku semakin terasa dekat dengan Allah, semuanya terasa mudah, terasa ringan dan tak ada lagi air mata yang diakibatkan oleh rasa kecewa, tak ada lagi tangis yang menyesakkan dada, sekarang aku mulai menjadi wanita yang lebih kuat atas masalahku, lebih tangguh dari air mataku. Pikiranku tak lagi tertuju pada teman-temanku yang selalu bercerita kekasihnya, yang mulai menggodaku karena niat hijrah ini. Hati ini mulai tertata dengan pikiran bahwa pacaran tidak akan selamanya berakhir jodoh, mungkin setelah aku belajar dari sebuah pengalamanku saat itu bahwa pacaran hanya akan menyisakan sebuah pengharapan yang berlebihan kepada selain Allah yang maha memiliki hati seluruh mahluk hidup dibumi, yang pasti mungkin pacaran akan membuat kita terlena bahkan lupa bahwa pacaran akan menghalangi jodoh terbaik untuk segera hadir. Sekarang aku mulai berharap hanya kepada Allah, membuka percakapan panjangku denganNya, meminta jodoh impianku padaNya, untuk dijaga dan segera dipertemukan denganku. Sungguh Dia-lah yang maha mengetahui apa yang tercantum dalam lauhul mahfudz. Aku percaya Allah punya rencana untuk mempertemukan kita dengan cara yang unik dan diwaktu yang mengejutkan.
Semoga hijrah ini tetap di-istiqomahkan, sampai aku bertemu denganmu kelak, dan sampai akhir hayat nanti