Tuesday, 28 March 2017

Surat Cinta dari seorang wanita Pluviophile

ADA APA DENGAN HUJAN ?
ADA APA DENGAN PERASAANKU ?

Rintikan air yang turun dengan begitu derasnya dilangit serang saat itu, suhu kamarku seketika berubah dan suasana hatiku kembali membeku.
aku yang saat itu masih menyibukkan diriku, berusaha tenggelam dalam tugas kuliahku disemester akhir. akhir-akhir ini aku sedang sibuk bermalam bersama tugas farmakoterapi mengenai Pelayanan Informasi Obat dan KIE terhadap beberapa penyakit yang dapat ditanggulangi secara Swamedikasi. Jam tidurku kembali tak teratur. aku tak lagi menjadi wanita yang memiliki jam tidur normal, yang ketika kamu selesai apel malam tidak membalas chat line atau mengangkat telponmu karena ketiduran, aku bahkan sering tertidur setelah adzan subuh berkumandang.

Maaf untuk tidak bisa menepati janjiku padamu,
untuk sehat selalu, untuk menjaga waktu tidurku, untuk menjaga berat badanku agar tetap stabil. karena aku terlalu sibuk untuk berusaha melupakanmu secepatnya.
karena ditempat awal kita saling mengungkapkan perasaan dan ditempat pula aku dipaksa untuk melepasmu, melupakanmu.
sejak saat itu keadaan serang tak pernah lagi bersahabat denganku. semenjak kamu pergi, banyak hal yang terjadi pada diriku, ribuan orang berkuasa mencoba untuk menghancurkanku, yang memaksaku untuk berubah menjadi wanita yang super sibuk. aku sedang berusaha semangat agar aku bisa secepatnya menjadi seorang apoteker muda yang pernah aku janjikan padamu.

Bagaimana dengan pendidikanmu tuan? Apakah semua berjalan seperti kehendakmu ? ataukah kamu sudah lulus mendahuluiku menjadi seorang abdi negara dengan gelar SH?
Maafkan aku, jika aku selalu teringat hal itu, karena hal itu yang dulu menjadi alasanmu untuk memutuskan pergi, bukan ? Dan sejak saat itu pula kamu membuatku merasa menjadi wanita yang tidak berguna. tentu, karena kamu tak lagi dapat aku temani untuk mencapai puncak.
Mungkin jika kamu membacanya, kamu akan terpesona dengan ingatanku yang sangat hebat ini kan ? Tidak usah kamu kerutkan dahimu, aku sungguh tak serius dengan kata-kataku tadi.
Tuan, bukankah dulu kita pernah menghadapi hujan bersama, bahkan kita rela menghadapi hujan hanya untuk bertemu. bahkan setelah hujan kamu mengajakku keluar untuk mengirup aroma tanah setelah hujan bersama. aku ingat sekali aroma itu dapat membuat hatimu tenang, tapi akupun belum bis membuktikan ucapanmu itu. Tuan jika dulu kita mampu menghadapi hujan dan gemuruh petir bersama, tapi kenapa kita tak bisa menghadapi perasaan kita ? Aku bahkan tak dapat memahami segalanya, bagaimana bisa seseorang yang aku kenali selama 7tahun yang lalu itu, bisa membuatku patah sedalam ini.
aku harap kamu bahagia dengan apa yang telah kamu putuskan.
sekalipun kamu harus kehilangan cinta tulus dari seorang wanita untukmu

ditulis : Serang, 26 Januari 2017

No comments:

Post a Comment